Sabtu, 29 Januari 2011

RAUDHA'AH (SE-SUSUAN) DALAM PANDANGAN ULAMA MADZHAB


KADAR ASI YANG MENJADIKAN MAHROM


A. PENDAHULUAN

            Merupakan sunnatullah, bahwa semua makhluk yang bernyawa, diciptakan berpasang-pasangan, laki-laki dan perempuan (Al-Dzariyat : 51). Manusia diciptakan memiliki nafsu serta akal dan hewan memiliki nafsu juga. Sebagian hewan tidak bisa berbudaya dan tidak bisa membedakan mana baik dan mana buruk, kecuali beberapa hal yang kecil untuk mempertahankan hidupnya yang muncul berdasarkan instink. Maka dari itu hewan dapat menjalankan nafsunya dengan sepuas-puasnya tanpa ada batas, lain halnya dengan manusia, ia tidak dapat menyalurkan nafsunya seperti hewan, kecuali harus dengan aturan-aturan yang berbentuk  ikatan perkawinan. Yang dapat menimbulkan halangan-halangan perkawinan dalam syara’, diantaranya seperti haram karena adanya nasab, perbesanan, pertalian sesusuan.

B. PEMBAHASAN

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالَاتُكُمْ وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي   أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا.

Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, ( Q.S. Al-Nisa (4): 23 )

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا لَا تُضَارَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُودٌ لَهُ بِوَلَدِهِ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَلِكَ فَإِنْ أَرَادَا فِصَالًا عَنْ تَرَاضٍ مِنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا وَإِنْ أَرَدْتُمْ أَنْ تَسْتَرْضِعُوا أَوْلَادَكُمْ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِذَا سَلَّمْتُمْ مَا ءَاتَيْتُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ.

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma`ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan juga seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. (Q.S. Al-Baqarah : 233)

Menurut riwayat Al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah dari Aisyah r.a :

يُحَرِّمُ مِنَ الرَّضَاعِ مَا يُحَرِّمُ مِنَ النَّسَبِ
“Diharamkan karena adanya hubungan susuan apa yang diharamkan karena adanya hubungan nasab”.




B. I .    Kadar Air Susu Yang Menyebabkan Keharaman

         Secara zhahir segala macam susuan dapat menjadi sebab haramnya perkawinan. Tetapi sebenarnya tidak benar, kecuali karena susuan yang sempurna, yaitu dimana anak menyusu dan menyedot air susunya, dan tidak berhenti dari menyusui kecuali dengan kemauannya sendiri tanpa sesuatu paksaan. [1]
         Jika ia baru menyusu sekali atau dua kali hal ini tidak menyebabkan haramnya kawin, karena bukan disebut menyusu dan tidak pula bisa mengenyangkan.

         ‘Aisyah berkata bahwa Rasulullah saw bersabda :           
          لاَتُحَرِّمُ الْمَصَّةَ وَلاَ اْلمَصَّتَانِ
“Tidak haram kawin karena sekali atau dua kali susuan” (H.R. Jama’ah, kecuali Bukhari).
        
         Para ulama telah berbeda pendapat tentang kadar persusuan yang menimbulkan pertalian persusuan. Hal ini akibat adanya beberapa riwayat hadits yang mengandung keterangan yang berbeda satu sama lain, yang masing-masing dikuatkan ataupun dilemahkan berdasarkan pertimbangan para ulama dari berbagai madzhab. Di antara pendapat-pendapat tersebut adalah :[2]
a.       Menurut madzhab Syafi’i dan Ahmad (dalam salah satu di antara dua pendapatnya) serta Ibn Hazm mengacu kepada pendapat yang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Zubair, juga salah satu pendapat Aisyah serta beberapa tokoh lain —“ Persusuan tidak dianggap sempurna, dan karenanya tidak menimbulkan hubungan mahram antara yang menyusui dan disusui, kecuali dengan berlangsungnya paling sedikit lima kali susuan mengenyangkan, dalam beberapa waktu yang berlainan.”

b.      Menurut Abu Hanifah, Malik, dan salah satu dalam madzhab Ahmad, berdasarkan riwayat yang disandarkan pada Ali, Ibn Abbas, Sa’id bin Musayyab, Hasan Al-Bashri dan beberapa lainnya —“Berlangsungnya susuan yang sempurna (yakni yang mengenyangkan, bukan yang hanya berupa satu atau dua isapan saja) walaupun hanya satu kali saja, sudah cukup menimbulkan hubungan mahram antara yang menyusui dan disusui.
‘Aisyah berkata bahwa Rasulullah saw bersabda :  
       لاَتُحَرِّمُ الْمَصَّةَ وَلاَ اْلمَصَّتَانِ
“Tidak haram kawin karena sekali atau dua kali susuan” (H.R. Jama’ah, kecuali    Bukhari).

c.       Pendapat ketiga, yang tampaknya tidak begitu populer, yaitu yang dianut oleh Abu Daud Azh-Zahiri, Abu Tsaur dan Ibn Al-Mundzir. Mereka menyatakan bahwa persusuan tidak dianggap sempurna, dan karenanya tidak menimbulkan hubungan mahram, kecuali apabila telah berlangsung paling sedikit tiga kali susuan.

      Dinyatakan dalam buku Bidayatul Mujtahid silang pendapat ini disebabkan oleh    adanya pertentangan antara keumuman ayat Al-Qur’an dengan hadits yang memuat pembatasan, di samping pertentangan antara hadits itu sendiri satu dengan lainnya. Keumuman firman Allah tersebut ialah:
         وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي  أَرْضَعْنَكُمْ
Dan ibu-ibumu yang menyusui kamu. ( Q.S. Al-Nisa (4): 23 )
            Ayat ini menghendaki keharaman setiap yang dikatakan susuan.
Sedangkan hadits yang saling bertentangan mengenai masalah ini berpangkal pada dua hadits.

            Pertama: hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari jalan ‘Aisyah dan jalan Ummu ‘I-Fadhl disebutkan:
قال الرسول الله ص.م :لاتُحَرِّمُ اْلإِمْلاَجَةُ وَلاَ اْلإِمْلاَجَتَانِ
Rasulullah saw bersabda:  “Tidak mengharamkan satu kali sedotan atau
 dua kali sedotan”.

Kedua: hadits Salhah yang berkenaan dengan Salim, bahwa Nabi saw. berkata kepadanya:

              ا َرْضِعِيْهِ خَمْسَ رَضَعَاتٍ
“Susukanlah dia lima kali susuan”.
            Bagi fuqaha yang lebih menguatkan lahir kata-kata al-Qur’an atas hadits-hadits ini, maka mereka mengatakan bahwa satu atau dua kali sedotan sudah diharamkan.
            Sedang bagi fuqaha yang mendudukan hadits tersebut sebagai tafsiran atas ayat al-Qur’an, dan menggabungkan antara hadits-hadits dengan al-Qur’an, serta lebih menguatkan mafhum dalil khithab pada sabda Nabi saw.: “Tidak mengharamkan satu kali sedotan atau dua kali sedotan”, atas mafhum dalil khithab pada hadits tentang Salim, maka mereka mengatakan bahwa tiga kali sedotan ke atas itulah yang mengharamkan[3].

B. II. Usia menyusu

            Firman Allah:
وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ

 “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan”. (Al-Baqarah: 233).
Fuqaha telah sependapat bahwa menyusu pada usia dua tahun mengharamkan[4]. kemudian mereka berselisih pendapat tentang penyusuan anak yang sudah besar.
            Imam Malik, Abu Hanifah, Syafi’i, dan lainnya berpendapat bahwa penyususan anak besar tidak mengharamkan.
            Daud dan fuqaha Zhahiri berpendapat bahwa penyusuan tersebut mengharamkan.  Ini juga pendapat ‘Aisyah ra. Sedang pendapat jumhur fuqaha (di atas) merupakan pendapat Ibnu Mas’ud ra., Ibnu Umar ra., Abu Hurairah ra., Ibnu Abbas ra., dan seluruh istri Nabi saw.
Silang pendapat ini disebabkan oleh adanya pertentangan antara hadits-hadits yang berkenaan dengan masalah tersebut. Demikian itu karena dalam hal ini terdapat dua hadits.
            Pertama: Hadits tentang Salim yang telah disebutkan di muka.
            Kedua: Hadits ‘Aisyah ra. Yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim berikut ini:
قَالَتْ : دَخَلَ رَسُوْلُ اللهِ ص.م. وَعِنْدِىْ رَجُلٌ فَاشْتَدَّ ذَالِكَ عَلَيْهِ وَرَأَيْتُ الغَضَبَ فِى وَجْهِهِ, فَقُلْتُ : يَارَسُوْلَ اللهِ, إِنَّهُ اَخِىْ مِنَ الرَّضَاعَةِ فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ, أُنْظُرْنَ مَنْ إِخْوَانُكُنَّ مِنَ الرَّضَاعَةِ فَاِنَّ الرَّضَاعَةَ مِنَ اْلمَجَاعَةِ.

 “ ‘Aisyah berkata: Rasulullah saw. masuk kerumahku, sedang aku mempunyai tamu seorang lelaki, maka hal itu membuat beliau marah, dan aku melihat (tanda-tanda) kemarahan di wajahnya. Kemudian aku berkata, “ya Rasulullah, sesungguhnya ia adalah saudaraku sesusuan. “ maka berkatalah Nabi saw., “ Perhatikanlah siapa saudara-saudaramu sesusuan, karena sesungguhnya penyususan itu disebabkan kelaparan.
            Bagi fuqaha yang lebih menguatkan hadits terakhir ini, maka mereka mengatakan bahwa air susu yang tidak dapat berfungsi sebagai makanan bagi orang yang menyusu, tidak menyebabkan keharaman.
Hanya saja, hadits tentang Salim merupakan suatu kejadian yang nyata, dan seluruh istri Nabi saw. menganggap kejadian tersebut sebagai suatu kemurahan (rukhshah) bagi Salim sendiri.
            Sedang bagi fuqaha yang lebih menguatkan hadits tentang Salim, dan menganggap hadits ‘Aisyah ra. (ada celanya). Karena mereka sendiri tidak menggunakannya, maka mereka mengatakan bahwa penyusuan anak besar menyebabkan keharaman.

B. III. Penyusuan Tambahan Sesudah Berhenti Menyusu.

            Fuqaha berselisih pendapat mengenai, apabila seorang anak tidak membutuhkan lagi (susu) sebelum berusia dua tahun, lalu disapih, kemudian disusui lagi oleh perempuan lain.
            Imam Malik berpendapat bahwa penyusuan tersebut tidak mengharamkan.
            Imam Abu Hanifah dan Syafi’i berpendapat bahwa penyusuan tersebut menyebabkan keharaman.
            Silang pendapat ini disebabkan oleh silang pendapat mereka tentang mafhum sabda Nabi SAW :
فَاِ نَّمَا الرَّضَاعَةُ مِنَ المَجَاعَةِ
    Sesungguhnya penyusuan itu hanyalah disebabkan kelaparan.
            Boleh jadi, yang dimaksud oleh hadits ini adalah penyusuan yang terjadi pada  masa (usia) lapar – betapapun juga keadaan anak itu – yaitu usia menyusu. Dan boleh jadi pula bahwa yang dimaksud adalah, apabila anak tersebut belum disapih. Apabila telah disapih dalam usia dua tahun, maka bukan penyusuan karena kelaparan. Jadi, silang pendapat ini disebabkan oleh persoalan, apakah yang dijadikan tolak ukur bagi penentuan penyusuan yang disebabkan oleh kelaparan dan kebutuhan akan air susu? Apakah kebutuhan yang alami bagi anak-anak, yaitu kebutuhan yang disebabkan oleh usia menyusu, ataukah kebutuhan anak yang menyusu itu sendiri, yang dalam hal ini akan hilang dengan adanya penyapihan, tetapi kebutuhan itu sendiri memang ada.

            Bagi fuqaha yang berpendapat adanya pengaruh penyusuan pada usia menyusu, baik mereka yang mensyaratkan tidak adanya penyapihan atau tidak mensyaratkan demikian, maka mereka berselisih pendapat tentang masa tersebut.
            Zufar berpendapat bahwa masa tersebut adalah dua (2) tahun.
            Dalam menetapkan keharaman, Imam Malik mensunnahkan sedikit penambahan waktu dari dua (2) tahun. Menurut salah satu riwayat daripadanya, tambahan tersebut adalah satu (1) bulan. Dan menurut riwayat yang lain, tiga (3) bulan.
            Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa masa tersebut adalah dua tahun enam bulan.
            Silang pendapat ini disebabkan oleh kemungkinan terdapatnya pertentangan antara ayat  al-Qur’an yang berkenaan dengan masalah penyusuan dengan hadits ‘Aisyah ra. Yang disebutkan di muka. Firman Allah tersebut :

                  وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ     (Q.S. al-Baqarah, 2: 233)
                       “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh”.          
            Ayat ini memberi pengertian bahwa penyusuan yang lebih dari dua (2)  tahun bukan merupakan penyusuan karena kelaparan (kebutuhan) akan air susu. Sedang keumuman sabda Nabi saw. :                                فَاِ نَّمَا الرَّضَاعَةُ مِنَ المَجَاعَةِ                                                                          
“Sesungguhnya penyusuan itu hanyalah disebabkan kelaparan.”
Menghendaki bahwa selama  makanan anak kecil masih berupa air susu, maka penyusuan tersebut menyebabkan keharaman[5]                                                                                                                                                  
 B. IV. Memasukkan Air Susu Tanpa Melalui Penyusuan (Al-Wajur Wa ‘I-Ladud)
            Apakah al-wajur wa ‘I-ladud adalah memasukkan air susu ke dalam kerongkongan tanpa melalui penyusuan. Menyebabkan keharaman apa tidak?
            Imam Malik berpendapat al-wajur wa ‘I-ladud menyebabkan keharaman. Dikarenakan ia lebih memperhatikan masuknya air susu - dengan bagaimana pun juga masuknya.
Sedangkan Atha’ dan Daud berpendapat bahwa tidak menyebabkan keharaman. Dikarenakan ia lebih memperhatikan cara masuknya air susu tersebut dengan cara yang biasa, yakni yang disebut al-radha’ (penyusuan), maka mereka mengatakan bahwa al-wajur wa ‘I-ladud tidak mengharamkan.

B.V. Air Susu Campuran
            Apabila air susu seorang ibu bercampur dengan makanan, minuman, obat, susu sapi dan sebagaimana yang dimakan oleh si anak, kalau susu dari si ibu yang menyusui lebih banyak kadarnya maka perempuan yang mengeluarkan air susu itu menjadi haram untuk dikawin. Apabila kadarnya lebih sedikit tidak menyebabkan haram. Demikian menurut madzhab Hanafi, Al-Muzani dan Abu Tsaur dari kalangan madzhab Syafi,i.[6].
            Asy-syafi,i  dan sebagian ulama Malikiyah berpendapat bahwa di susu yang menyebabkan larangan kawin itu menurut kadarnya. Apabila dicampur tetap ada susunya atau tidak.
            Sebenarnya dalam masalah ini harus dilihat kadar susu yang bercampur itu, apakah masih dapat disebut susu atau tidak, apabila masih disebut susu maka menyebabkan haram dan kalau tidak maka tidak menyebabkan haram.
            Di dalam hal ini kaidah yang terkenal yaitu “apabila airnya lebih banyak dari pada air susu dianggap air. Dan bilamana air susunya lebih banyak dari campurannya, maka  dianggap air susu juga”.[7]

B. VI. Sifat Susuan
            Perempuan yang air susunya menjadikan haramnya perkawinan yaitu semua perempuan yang masih subur air susunya, keluar dari kedua puting susunya. Baik sudah dewasa atau belum, sudah tidak haid atau masih berhaid, punya suami atau tidak, hamil atau tidak. Demikianlah sifat-sifat atau keadaan perempuan yang menyusui menurut fuqaha. Imam Abdul Malik Al-Juwaini ayah Imamul Haramain r.a. sewaktu melihat seorang perempuan sedang menyusukan anak beliau, anak itu segera beliau ambil, ditarik kepalanya, perutnya ditekan, kerongkongannya dimasuki jari sampai anak itu muntah, beliau berkata :”Saya lebih rela engkau mati dengan tabeat yang baik dari pada engkau menetek air susu bukan dari ibumu”[8].

B. VII. Persaksian Atas Penyusuan
            Menyusukan anak diperbolehkan di kalangan sesama orang Islam, al-Qur’an dan Sunnah memperbolehkannya. Menyusukan anak sebaiknya disaksikan oleh dua (2) orang saksi. Apabila tidak ada dua (2) orang saksi laki-laki apakah boleh seorang perempuan menjadi saksi apabila ia sendiri yang menyusui?
            Para ulama berselisih pendapat, jumhur ulama menganggap tidak cukup karena berarti memberikan kesaksian tentang apa yang ia lakukan sendiri, mereka beralasan dengan hadits Umar, Ali dan Mughirah bin Syu’bah yaitu bahwasanya mereka melarang (tidak mengakui) perceraian yang disaksikan oleh saksi wanita.
            Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa untuk kesaksian penyusuan ini diperlukan dua orang saksi laki-laki atau seorang laki-laki dan dua(2)  orang perempuan, kesaksian hanya oleh seorang perempuan tidak dapat diterima berdasarkan firman Allah SWT :

وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاءِ
“Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki diantaramu). Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai”.(Al-Baqarah : 282).

Asy-Syafi’i berpendapat bahwa untuk kesaksian penyusuan ini diperlukan empat orang saksi perempuan, karena dua (2) orang perempuan sama dengan seorang laki-laki dan biasanya kaum wanitalah yang dapat menyaksikan penyusuan seperti biasanya orang perempuan menyaksikan kelahiran anak.
            Ahmad bin Hanbal dan lain-lainnya berpendapat bahwa seorang perempuan dapat diterima kesaksiannya dalam kesaksian tentang penyusuan anak. Mereka beralasan dengan hadits budak hitam yang berkata kepada Uqbah ibnul Harits:
قَدْ أَرْضَعْتُكُماَ
          Artinya : “ Saya telah menyusui kalian berdua”.
Dan Nabi saw tidak menanyakan siapa yang menyaksikannya selain dirinya sendiri.
            Demikianlah pendapat-pendapat ulama tentang kesaksian dalam menyusukan anak.

C. PENUTUP
            Diharamkannya perkawinan karena susuan ini adalah karena sebenarnya tubuh sianak itu terbentuk dari air susu ibu yang menetekinya dan si anak akan mewarisi watak dan perangai seperti anak yang akan dilahirkannya sendiri, ia seolah-olah merupakan bagian dari tubuhnya yang memisah kemudian berdiri sendiri, karena ia akan menjadi anggota keluarganya dan menjadi muhrimnya. Hikmah lainnya yaitu untuk memperluas ruang lingkup sanak kerabat dengan memasukkan saudara sepersusuan sebagai saudara sendiri.
           
Refrensi :

  1. Al-Qur’anul Karim.
  2. Al- Hasybi, Muhammad Bagir : Fiqh Praktis, cet. I (2002) Mizan: Bandung.
  3. Al-Hamdani, H.S.A. (Alih Bahasa oleh Drs. Agus Salim) : Risalah Nikah
        Hukum Perkawinan Islam, cet.III (1989) Pustaka Amani: Jakarta.
  1. Ibn Rusyd : Bidyatul Mujtahid (diterjemahkan oleh.Abdurrahman M.A & A. Abdullah Haris) cet.I. (1990), penerbit CV. Asy Syifa’ : Semarang.
  2. Sayyid Sabiq: Fikih Sunnah (alih bahasa oleh Drs. Mohammad Thalib), penerbit  PT Al Ma’arif: Bandung.




           


[1]  Lihat Sayyid Sabiq, Fiqh As-Sunnah (6), terjemah, hal. 112
[2]  Muhammad Bagir Al-Habsyi, “Fiqh Praktis”, hal. 17
[3]  Bidayatul Mujtahid, jilid II, terj. hal. 424.
[4]  Ibid . hlm.425
[5]   Ibid. hlm. 427
[6]   H.S.A. ALI HAMDANI, “Risalah Nikah”, hlm. 66.
[7]   Lihat, “Fikih Sunnah VI (Terjmh), hlm. 115
[8]   Tafsir Al Manar II : 417.

Minggu, 14 November 2010

Solusi Mengatasi Bau Kaki

Tips Mudah Hilangkan Bau Kaki


Masalah kesehatan yang satu ini selain mengganggu si penderita, juga dapat mengganggu orang lain. Semua orang pasti tidak ingin memiliki masalah yang satu ini, selain mengganggu bau kaki juga bisa menurunkan kepercayaan diri seseorang.

Bau kaki biasanya disebabkan oleh kaki yang berkeringat sehingga menyebabkan bakteri dapat tumbuh dengan cepat, karena lingkungan yang lembab merupakan tempat yang optimal untuk pertumbuhan bakteri.

Untuk menghindari bau kaki, banyak hal yang bisa dilakukan untuk mencegahnya. Salah satunya adalah menggunakan kaus kaki yang berbahan katun, karena bisa menyerap keringat dan membuat kaki bisa bernafas lebih baik dibandingkan bahan sintetik. Sepatu kulit atau sandal masih lebih bagus dibandingkan dengan bahan sintetik.

Gantilah sepatu secara teratur kalau bisa setiap hari, ini dilakukan untuk memberikan kesempatan pada sepatu bernafas dan mengeringkannya. Belilah pembersih sepatu dan scrub kaki secara teratur.

Tapi, jika sudah memiliki masalah dengan bau kaki, ada beberapa pengobatan yang bisa dilakukan untuk menghilangkannya, seperti dikutip dari Health911.

1. Gunakan Tawas. Campurkan satu sendok teh tawas dengan air sampai mencapai mata kaki, lalu rendam kaki selama 30 menit, setelah selesai bilas kaki dengan menggunakan air bersih. Ulangi setiap 4 hari sekali, dalam sebulan masalah bau kaki akan berkurang.

2. Spray Antiperspirant. Antiperspirant akan mengurangi keringat pada kaki yang bisa menyebabkan bau kaki, dan jika memiliki kaki pecah-pecah bisa juga dihilangkan dengan antiperspirant. Namun, untuk beberapa orang atiperspirant bisa menyebabkan iritasi kulit.

3. Gunakan sari cuka apel. Untuk mengontrol bau kaki, rendamlah kaki beberapa kali dalam seminggu dengan mencampurkan sari cuka apel dengan air hangat.

4. Baking soda. Menaburkan baking soda ke dalam sepatu untuk menyerap kelembaban dan juga bau yang ditimbulkan dalam sepatu.

5. Cucilah kaki setiap hari dengan menggunakan sabun antibacterial. Pastikan kaki sudah dalam keadaan benar-benar kering sebelum menggunakan sepatu atau sandal, karena kaki yang masih lembab memudahkan bakteri untuk berkembang biak.(www.wolipop.com)

Minggu, 10 Oktober 2010

6 Alasan Anda Tak Boleh Selingkuh



Minggu, 10 Oktober 2010 - 08:08 wib
text TEXT SIZE :
Share
Fitri Yulianti - Okezone
Sebelum hobi flirting pasangan mengendalikan kehidupan rumah tangga, Anda harus mulai mengambil langkah tegas. (Foto: gettyimages)

ISU monogami alias hanya punya satu pasangan kini dianggap ketinggalan jaman dan mengabaikan sifat alami manusia. Apalagi jika ulang tahun pernikahan Anda masih seumur dua digit, saat godaan selingkuh sangat besar.

Apa pun patut diperjuangkan untuk menjaga ikatan pernikahan tetap utuh. Jadi sebelum hobi flirting pasangan mengendalikan kehidupan rumah tangga, Anda harus mulai mengambil langkah tegas.

Berikut, enam alasan untuk mengingatkan Anda agar terus berjuang melawan segala gangguan di tengah janji kesetiaan dalam pernikahan, seperti dikutip EMandLO.

Seks meningkat seiring waktu

Monogami bukan hanya tentang menjaga mata dari godaan di luar rumah, tapi juga mensyukuri apa yang ada di dalam rumah, alias pasangan. Bertambahnya usia membuat Anda mengenal tubuh dengan lebih baik, nyaman dengan kondisi kulit, sehingga pasangan bisa belajar menerima Anda luar-dalam.

Selanjutnya, luangkan cukup waktu untuk bisa menikmati kebersamaan berdua, tanpa tekanan tugas dan tanggung jawab masing-masing. Mungkin Anda ingin napak tilas tempat kencan favorit dulu.

Kenyamanan datang secara alami

Menyendok adalah posisi terbaik bagi pasutri untuk berbagi kasih sayang sepanjang malam. Setelah bertahun-tahun bersama, tubuh Anda secara alami akan merasa sangat nyaman saat saling mendekap. Apalagi usai bercinta, saat terjadi skin to skin contact.

Bebas dari ritual perawatan tubuh

Bukan hendak mengatakan bahwa pernikahan membuat Anda melupakan rutinitas merawat tubuh seperti masa lajang dulu. Namun biasanya, standar kecantikan atau perawatan tubuh Anda secara otomatis akan menurun ketika ada orang lain yang membutuhkan perhatian.

Selingkuh bikin ketagihan

Selama berselingkuh, hidup Anda jadi lebih ‘hidup’ dibanding bersama pasangan dalam usia pernikahan sekian tahun. Anda juga meyakinkan diri bahwa peristiwa tersebut tidak mengubah perasaan Anda kepada pasangan. Nyatanya bohong!

Semakin sering Anda berselingkuh, semakin besar kemungkinan Anda untuk terjebak di dalamnya dan semakin terampil berbohong. Tetapi yang lebih penting, semakin Anda berbohong, semakin sedikit Anda akan menghormati pasangan (misalnya, Anda akan mulai memandang rendah karena ia tidak tahu apa-apa tentang kehidupan Anda, padahal hidup seatap), dan semakin sedikit Anda akan menghormati pernikahan Anda sendiri.

Kinky sex adalah untuk pasangan

Kinky sex atau “seks kotor”—seperti permainan peran, saling memukul, atau perbudakan—yang terbaik adalah dinikmati bersama seseorang yang Anda cintai dan percaya sepenuhnya, bukan orang yang baru Anda kenal di bar.

Monogami penuh makna

“Loyalitas". "Kepercayaan". "Kesetiaan". "Rasa hormat". Semua hanyalah sederet kata yang baru bisa memberi kekuatan setelah Anda melakukannya. Akad atau janji pernikahan tidak akan bermakna sampai Anda mengatakannya di hadapan penghulu, pendeta, dan sebagainya. Janji akan semakin kuat karena Anda berdua berkomitmen menjaganya.(ftr)

Jumat, 30 Juli 2010

Ciri Pria yang Punya Masa Depan Cerah



KOMPAS.com — Apa yang Anda lihat ketika memilih pasangan? Pria yang berasal dari keluarga kaya dan terpandang? Jika tujuan hubungan Anda hanya saat ini, mungkin itu cukup. Namun, bila yang Anda cari adalah hubungan yang serius hingga ke pernikahan, ada kriteria lain yang sebaiknya Anda lihat, yaitu potensi kesuksesan dia.

1. Punya tujuan hidup

Ketika Anda bertanya apa tujuan hidupnya, ia akan menjelaskan secara rinci kepada Anda rencana jangka pendek dan menengahnya, apa yang ingin ia lakukan setahun mendatang, lima tahun, dan seterusnya.

Bahkan, ia menyiapkan rencana cadangan untuk mengantisipasi kegagalan. Tidak hanya menjawab, "Kita lihat saja nanti, jalani saja hidup ini seperti air mengalir."

2. Mandiri

Ia tidak bergantung pada orang lain dan mengandalkan kemampuan sendiri dalam hal apa pun. Misalnya, sejak awal mula bekerja, ia menanggung sendiri biaya hidupnya tanpa bantuan orangtuanya. Pria seperti ini menunjukkan bahwa ia bertanggung jawab atas hidupnya dan hidup orang yang ia sayangi. Si dia juga tak pernah mengeluh mengenai pekerjaannya. Karena ia sadar, untuk mencapai kesuksesan, tentu dibutuhkan usaha dan kerja keras.

3. Hobi menolong

Anda tentu pernah mendengar ungkapan semakin banyak memberi, akan semakin banyak menerima. Percaya atau tidak, ungkapan ini memang ada benarnya. Jadi, bila pasangan termasuk pria yang ringan tangan membantu orang lain, Anda perlu berbangga hati mendukungnya. Sebab, ini akan menjadi bekal atau tabungan untuk menuju kesuksesannya di masa depan. Siapa tahu seseorang yang ia bantu saat ini berperan penting dalam kariernya di kemudian hari.

4. Bersahabat dan berwawasan

Sikapnya yang bersahabat ditambah dengan wawasan luasnya biasanya akan mudah mengambil hati banyak orang, termasuk saat melobi orang-orang penting yang berkaitan dengan kariernya. Pengetahuannya tentang berbagai hal termasuk berita-berita terkini akan membuat orang lain merasa nyaman berdiskusi dengannya. Semakin banyak orang tertarik padanya, semakin luas juga networking-nya. Kalau sudah begini, Anda tak perlu khawatir dengan kualitas diri yang dimiliki si dia, kesuksesan pun akan segera menghampiri.

5. "Family man"

Pria yang bertanggung jawab dan menyayangi keluarganya biasanya adalah pria yang juga memerhatikan perkembangan kariernya. Ia akan selalu termotivasi meningkatkan karier lebih baik lagi untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Selain itu, pria tipe ini cenderung setia pada pasangannya sehingga ia bisa menyeimbangkan waktu dan pikirannya untuk Anda dan pekerjaannya.


6. Memiliki investasi

Saat ini gaji si dia tak bisa dibilang besar? Tak perlu khawatir selama ia bisa mengatur pendapatannya dan tak selalu kehabisan uang di tengah bulan. Apalagi bila ia termasuk orang yang jeli melihat peluang bisnis. Tak perlu terlalu besar, berangkat dari bisnis kecil-kecilan pun bisa mengantarkannya menjadi pengusaha sukses. Dukung sepenuhnya ketika dia memiliki keinginan untuk mencicil rumah atau berinvestasi dalam bentuk lain, seperti saham atau reksa dana. Karena ini menunjukkan si dia sangat memikirkan masa depan.

7. Realistis dan lurus

Meskipun si dia bersemangat meraih mimpinya, tetap amati bagaimana usahanya meraih impian, jangan sampai si dia menghalalkan berbagai cara yang justru bisa menghancurkan masa depannya. Ingatkan untuk tetap realistis dengan kemampuan yang dimilikinya. Bila si dia ahli dalam bidang teknologi informatika, ia tak perlu memaksakan diri untuk menjadi seorang public relations karena tertarik melihat temannya yang sukses di bidang tersebut. Masing-masing orang kan memiliki kelebihan yang berbeda-beda.

8. Optimistis dan positif

Ia sangat tahu apa yang menjadi kelebihan dan kekurangannya sehingga ia selalu percaya diri saat berinteraksi dengan orang lain ataupun ketika diberikan tanggung jawab baru. Ia hampir tak pernah berkata "tidak bisa" atau "malas deh melakukannya". Ia selalu berpikir positif dan optimistis bahwa setiap tantangan yang datang pasti ada solusinya. Selain itu, ia juga terbiasa fokus dalam melakukan sesuatu sehingga tak cepat menyerah saat mengalami kegagalan.

(Majalah Chic/Bestari Kumala Dewi)



Editor: NF

Senin, 05 Juli 2010

Kaum Moor

MOOR

Sejak pertama kali menginjakkan kaki di tanah Spanyol hingga jatuhnya kerajaan Islam terakhir di sana, Islam memainkan peranan yang sangat besar. Masa itu ± berlangsung selama tujuh abad. (Yatim, 2008; 93). Sumber lain menyatakan agama Islam berkuasa di Spanyol sampai dengan delapan abad. (Latief, 1997; 311).

Ketika itu kejayaan Islam di Spanyol terwujud pada saat Abdurrahman III memerintah pada tahun 912-961 M. Bila penguasa-penguasa terdahulu memakai gelar Amir maka Abdurrahaman III menggunakan gelar Khalifah sekaligus Amir al-Mukminin. (saefudin, 2002 ; 91). Kekuatan tentaranya dibangun dengan merekrut orang-orang Berber (Barbar) di Afrika dan pasukan budak yang dibawa dari segenap penjuru Eropa Kristen. Pada priode ini, umat Islam Spanyol mencapai puncak kemajuan dan kejayaan, menyaingi kejayaan daulat Abbasiyah di Baghdad. Abdurrahman al-Nashir mendirikan universitas Cordova. Perpustakaannya memiliki koleksi ratusan ribu buku. Hakam II juga seorang kolektor buku dan pendiri perpustakaan. Pada masa ini masyarakat dapat menikmati kesejahteraan dan kemakmuran. Pembangunan kota berlangsung cepat.

Pada abad ke-8 Masehi, Bangsa Finisi dan Kartago yang menguasai Semenanjung Iberia dan Afrika Utara dikalahkan oleh bangsa Arab. Bangsa Arab meminta bantuan pada kaum Berber (Barbar) untuk menguasai Spanyol. Kemudian bangsa Arab dan kaum Berber menguasai daerah ini sampai abad ke-17. Pada abad Pertengahan, bangsa Arab tersebar dari ujung Teluk Persia sampai Pegunungan Pirenia. Kaum Kristen di Eropa menyebut kekhalifahan Arab Islam ini sebagai “Saracen“. Kaum Kristen di Iberia menyebut umat Muslim sebagai Bangsa Moor.

Kejayaan Islam di Spanyol tidak dapat dilepaskan dari kaum Mor atau orang Barbar. Mor ialah nama yang dipergunakan oleh orang Romawi Timur (Bizantium) untuk orang Arab dan Barbar Muslim di Afrika Utara bagian barat yang menyeberang ke Spanyol pada tahun 709. Nama tersebut diperkirakan berasal dari kata “mauri” dalam bahasa Funisia dan dipakai dengan lafal “Moro” orang Inggris menyebut “Moor”. (Ensiklopedia Islam,1993;244-245).

Kata Moors, dalam bahasa Arab ”almar ” merupakan bentuk yang sedikit agak samar-samar yang masih digunakan oleh orang-orang barat dalam bahasa eropa sampai abad ke 19 yang ditunjukan kepada Muslim spanyol dan penduduk yang tinggal disepanjang laut tengah Afrika pada zaman dulu. Maka dari itu bentuk aslinya belum jelas. Kata ini diperoleh dari salah satu bahasa Arab (semiric) ”mahorim” untuk sebutan yang digunakan penduduk barat untuk orang-orang bar-bar. Kata maupoistia yang dalam bahasa yunani muncul pada pertama kalinya. Dipolibus, dan baru-baru ini bentuk AiБuеs telah digunakan untuk menunjukan semua penduduk yang tinggal di afrika utara setelah pengusiran besar-besaran (chartage) pada tahun 146.B.C. dalam bahasa latin mauriya menunjukan sebuah kelompok relatif yang tinggal diantara samudra atlantik dan sungai mouluya chelif yang terletak disekitar Mauretania Caesariensis dan mauretania Tingutama di provinsi roma. Kemudian maurus dalam bahasa latin mengalami perubahan bentuk menjadi maupos dlm bentuk bahasa yunani. Maka kedua bentuk ini tepatnya digunakan untuk menunjukan orang-orang Barbar secara umum di spanyol, kemudian kata mauri mengalami perubahan lagi menjadi moros, dan berdasarkan nama itu digunakan untuk penduduk penunsuela yang dikombinasi oleh para penakluk Muslim pada masa dominasi Muslim tahun (711-1492) satu priode penuh. Sampai akhirnya bentuk moros telah diadopsi kedalam berbagai bentuk bahasa Eropa (mauren, maures, mauri, mohren, Moors, moren, dsb). (Brill, 1993;235-236).

Para penulis Eropa menggunakan nama Mor untuk orang Arab Bar-bar yang tinggal disepanjang Pantai Laut Tengah dan sekitar Sahara Afrika. Kemudian secara perlahan nama tersebut hanya untuk orang Islam di Afrika Utara, terutama mereka yang hidup sebagai Nomad di Sahara Barat. (Ensiklopedia Islam,1993; h.244-245).

Tanah tempat dimana bangsa Moor tinggal disebutMauritaniaatau mauretania, nama ini berasal dari bahasa poenician “Mauharim” yang kemungkinan dari sebuah nama suku yang tinggal disi sebelum era Kristen di Afrika utara. Kata ini yang digunakan pada zaman dulu untuk sebutan orang-orang Morocco Utara (Mauretania Tingitona) dan orang-orang bagian barat laut Algeria (Caesarean Mauretania), seiring dengan perluasan makna dan kegunaannya orang-orang eropa memberikan nama Moors secara umum kepada bangsa Barbar yang tinggal sepanjang laut tengah dan Afrika sahara. Kemudian secara perlahan-lahan mereka dibedakan kedalam kelompok besar. Maka nama Moor mengalami penyempitan, dan ditujukan hanya untuk penduduk Muslim Spanyol, orang Yahudi, dan Turki asli Afrika Utara, terutama untuk penduduk Nomad Sahara.Mauritaniaadalah salah satu tanah jajahan Perancis ke 8 Afrika Barat, luas wilayahnya terbentang sampai ke utara Sinegal.

Pada era modern ini, istilah Moors juga ditemukan diluar Mauritania, kata ini digunakan untuk menunjukan kelompok Arab Barbar di selatan sinegal. Selain itu Muslim Srilanka yang jumlahnya diperkirakan sekitar 900.000 lebih banyak dari 13 juta total populasi. Mereka juga diberi nama ”The Ceylon Moors”. Mereka merupakan bagian dari keturunan Arab yang menguasai tempat yang dekat pelabuhan modern Colombo pada abad ke 2-8. Tempat ini sebut Chalembon oleh Ibnu Batutah. Sampai datangnya portugis tahun 1505. bangsa Arab memonopoli perdagangan asing Ceylon. di philipina tepatnya dipulau Mindato, istilah ”Moro War” (1901-13) digunakan untuk rangkaian peperangan antara para serdadu amerika dan kelompok Muslim, yang berperang atas konflik agama daripada untuk alasan politik. Akhirnya, moros dalam bahasa spanyol menunjukan berbagai populasi Muslim yang ada di Philipina selatan, khususnya di sulu and Archipelago dan dan di Mindanao. Seiring perluasan kegunaan, istilah ini digunakan untuk bangsa Moors dalam bahasa Aestonesia. (Brill, 1993; 236).

· Populasi

Berdasarkan kronologi kejadian dan tradisi penduduk asli yang kembali,Mauritaniadihuni oleh orang-orang Negro, kemudian seiring dengan berjalannya abad,Mauritaniadihuni oleh berbagai macam imigran Barbar. Khususnya orang-orang Sanhaja, zanat, Arab, dan kemudian menyusul orang-orang Yahudi. Orang-orang Sanhaja datang ke tanahMauritaniasebelum hijrah sebagai imigran pertama, kemudian berdasarkan perkembangan orang-orang trans-sahara mereka mengembangkan perniagaan ke beberapa kota , dan hasilnya banyak lahirnya para saudagar dari berbagai keturunan bangsa Arab, seperti, orang Arab, Barbar, Zanita, Nafusa, Lwata, Nafzawa, dsb. Pada priode yang berbeda, orang-orang Yahudi juga datang ke tanah ini untuk mencari tempat perlindungan atas perlakuan keji dari negaranya. Terakhir, orang-orang yang merepakan bagian dari kelompok Ma’kil mereka datang ke tanah ini pada abad ke 19.

Maka estimasi angka jumlah penduduk secara keseluruhan belum bisa dipastikan pada masa sekarang. Tetapi jumlah untuk masing-masing suku diperkirakan untuk orang-orang Negro yang tinggal disekitar sungai jumlahnya 36.000 Tuculor (takrur), 21,600 untuk orang-orang Sarakole dan 13.000 Wolof, fula dan bambara, dan terakhir untuk bangsa Moor Arab Barbar sebanyak 216.000. (Brill,1987; 304).

· Sejarah

Orang Arab Barbar yang beragama Islam hidup sebagai Nomad di Sahara Barat, yang oleh orang Eropa disebut bangsa Mor, pada abad ke-9 mencapai suatu daerah pemukiman Negro, yang kini disebut Mauritania. Mereka pada umumnya merupakan kelompok suku Sanhaja ayng terdiri dari Puak Lemtuna, Gundala, Bani Walet. Konfederasi tiga Puak dibawah pimpinan Tilutan,kepala Puak lemtuna, itu mampu mengalahkan kekuatan Negro dibawah kekuasaan suku Takrur yang berpusat di Ghana. Dua puluh kepala suku Negro mengatakan tunduk pada orang Sanhaja dengan memberikan upeti secara rutin.

Kekuatan orang Sanhaja dipusatkan di Azugi, kira-kira 40 mil disebelah Timur Laut kota Kiffa atau (Mauritania),tetapi pada umumnya orang Sanhaja bermukim di Audaghost, pusat transit perdagangan Sahara, yang kini diperkirakan berada dekat Tamchaket, Mauritania. Kekuasaan mereka berlangsung amat singkat. Tahun 919 konfederasi Puak-puak Mor itu pecah, sehingga dengan mudah dikalahkan oleh orang Negro. Kekuatan Negro yang berpusat di Ghana segera dapat memperluas wilayah kekuasaannya sampai ke Audaghost.

Memasuki abad ke-11 (1020), orang Sanhaja kembali mengadakan konfederasi. Taisina,`pemimpin Puak Lemtuna, mencoba mendekati pemimpin-pemimpin Puak lainnya untuk bersatu kembali seperti pada masa kepemimpinan Tilutan. Upaya tersebut berhasil dan Tarsinah diserahi tugas memimpin persekutuan tersebut.

Dalam kedudukannnya sebagai kepala persekutuan Tarsinah mencanangkan program untuk mengIslamkan orang-orang Negro. Maka sepulangnya dari tanah suci Mekkah pada tahun 1023 ia bersama pasukannya melakukan perang suci namun ia tewas dalam peperangan tersebut, dan kepemimpinan konfederasi Sanhaja diserahkan kepada Yahya bin Ibrahim dari Puak Gudala.

Sebagaimana Tarsina, Yahya berangkat ke Tanah Suci melaksanakan ibadah Haji. Pada waktu pulang ia membawa serta seorang ulama dari Maroko bernama Abdullah bin Yasin untuk mengajar saudara-saudaranya yang belum mengerti agama Islam.

Pada awal ajaran Abdullah bin Yasin amat dipatuhi oleh orang Sanhaja, tetapi lama-lama ajaran itu menimbulkan kesulitan bagi kehidupan mereka yang masih punya tradisi Nomad, sehingga mereka berontak. Abdullah bersama para pengikut setianya kemudian mengungsi ke sebuah pulau dan mendirikan bangunan di dalam benteng pertahanan. Bangunan serupa dalam bahasa mereka disebut “Ribat”. Dalam benteng itu Abdullah mengajar para pengikutnya yang kian lama kian banyak. Merekalah yang kemudian menjadi kelompok Al-Murrabitun dan menjadi suatu kekuatan politik setelah mereka bergabung kembali dengan kekuatan Yahya bin Ibrahim.

Bersama-sama Yahya bin Ibrahim, Abdullah bin Yasin melakukan serangan ke Arab Sahara Barat. Mereka berhasil kembali menguasai daerah tersebut, bahkan sampai ke Senegal. Tetapi Yahya bin Ibrahim tewas dalam serangan tersebut (1050). Ia kemudian digantikan oleh Yahya bin Umar dari Puak Lemtuna. Yahya bin Umar bersama-sama dengan Abdullah bin Yasin,kemudian melakukan serangkaian ekspedisi. Ia melakukan ekspedisi ke Adrar (Al-Jazair), pusat pergerakan Suku Takrur (Negro), sementara Abdullah bin Yasin memimpin ekspedisi ke pusat Puak Baraghawata di Afrika Utara. Tetapi keduanya tewas dalam serangan tersebut. Pimpinan Al-Murrabitun kemudian dipegang oleh Abu Bakar bin Umar (w 1080), saudara Yahya bin Umar. Akan tetapi melihat bahwa keponakannya yang bernama Yusuf bin Tasyfin mempunyai ambisi yang cukup benar, Abu Bakar menyerahkan sepenuhnya ekspedisi ke arah Utara kepada keponakannya itu.

Sementara itu Abu Bakar sendiri menjadi penguasa di bagian Selatan. Ia berhasil menguasai Ghana dan menyebarkan Islam sampai ke Nigeria tapi dia tewas tahun 1080 dalam serangan ke Ragant. Kemarahannya menimbulkan perpecahan kembali dalam konfederasi Sanhaja. Dengan hilangnya kekuatan Sanhaja, pendukung utama gerakan Al-Murrabitun yang mata dipengaruhi ide-ide Abdullah bin Yasin, berakhirlah kekuasaan Islam tradisional tersebut.

Kekuasaan Islam diMauritaniamuncul kembali pada abad ke -14, dipelopori oleh bangsa`Bar-bar dari Puak Tashumsha. Mereka mewarisi perjuangan Al-Murrabitun, tetapi setelah memperoleh berbagai kemenangan. Mereka dapat dipukul kembali oleh kekuatan Negro, bahkan seluruh wilayahMauritaniadapat dikuasai oleh Negro.

Konflik antara Negro dan Mor terus berlangsung selama beberapa Abad, dari kedua kekuatan itu terus silih berganti berkuasa sampai abad ke-17, saat kedatangan para Amir dari tanah Arab yang menguasaiMauritaniahingga Abad ke-19 setelah itu mereka berhadapan dengan kekuatan Eropa yang mulai menjarah Mauritania untuk kepentingan dagang. Para penguasa dari tanah Arab itu diusir secara total oleh orang Eropa yang jauh lebih maju. Perancis menguasaiMauritania hingga awal abad ke-20 baik dalam bidang perdagangan maupun politik. ( Ensiklopedia Islam, 1993; 244-245).

· Kehidupan sosial dan ekonomi

Orang-orang Negro menguasai para petani yang merupakan sebagian besar berasal dari desa mereka di shamamah dan gorgol. sebagian besar dari mereka tepatnya menguasai daerah sinegal dari pada Mauritania. Oleh karena itu bangsa Moor hanya menempati beberapa desa berikut dengan hutan palm dan beberapa tanah peternakan di adrar, tagan, dan dhar. Mereka adalah penduduk hebat nomad yang tinggal dibawah tenda kerucut (sebagai rumah mereka) yang terbuat dari kulit unta.

Kehidupan ekonomi,Mauritaniahanya memiliki 1 pelabuhan laut, yaitu pelabuhan etinne yang terletak di tanjung penunsuela. Tetapi walau hanya 1 tempat ini menjadi tempat pemancingan. Di daerah ini tidak ada jalan yang belum dibuat, dan point pentingnya adalah semua bisa terhubung dengan adanya sarana transportasi seperti mobil dan pelayanan mobil gerbong. Sarana telepon hanya digunakan di daerah selatan, tetapi jaringannya menggunakan wireless, yang mengubungkanMauritaniadengan Dakar, Casablanca, Agadir, Bamoko dan Timbuktu.

Sumber kekayaan yang terpenting adalah ternak peliharaan sebanyak 51.000 unta, 3.800 kuda, 239.000 lembu, 2.000.000 kambing dan domba, dan 66.000 keledai. Hasil agricultural diantaranya diantaranya adalah palm didaerah utara berjumlah 3.000 ton per tahun, kemudian dibeberapa daratan lembah banyak menghasilkan tanaman berkualitas tinggi seperti milet (sejenis gandum), beras, wheat (gandum) dibagian selatan. Terakhir getah karet merupakan barang dagangan yang juga dihasilkan dari negara ini yang kemudian menjadi barang dagangan ekspor pertahun jumlahnya sebanyak 1.250-2500 ton. (Brill, 1987; 307-308).

· Kehidupan politik

Sistem pemerintahan Orang-orang Negro dipimpin oleh kepala desa dan kepala distrik, tetapi untuk bangsa Moor dikelompokan dibawah otoritas snaikh dan dibantu oleh sebuah dewan terkemuka atau disebut Djemama. Kadang-kadang beberapa suku dikombinasi secara turun temurun oleh orang amirate, dan peraturan hukum yang mereka terapkan dan pengadilan yang diakui sebagai lembaga hukum mereka diadopsi dari orang-orang Znaga atau Harathin.

· Bahasa

Bahasa yang digunakan diMauritaniaadalah bahasa Arab, hasaniata atau beida, dan sekitar 7000 orang di znaga bagian selatan mengadopsi dialek bangsa Barbar, sehubungan dengan itu dialek Barbar juga merupakan dielek yang digunakan oleh orang selata Morocco. Di wadan da Tishit. Mereka menggunakan bahasa azair (azer) bentuknya soninke, tetapi sekarang hanya digunakan oleh sebagian individu. Terakhir, orang-orang Negro yang tinggal disepanjang sungaiMauritaniayang masih mempertahankan bahasa mereka.

· Agama

Dalam sejarah tidak dijelaskan agama apa yang dianut orang-orang Sanhaja sebelum Islam, tetapi kehidupan mereka banyak dipengaruhi oleh beberapa kepercayaan monotheistic seperti agama Yahudi ataupun kristen. Pertama kali mereka mengenal Islam kemungkinan pada tahun 681 melalui Ukba bin Nafi, lalu kemudian disusul oleh Abdullah Ibnu Yassin. Dan akhirnya sekarang penduduk Mauritania adalah Muslim. (Brill, 1987; 308).

Sampai dengan abad ke-19, nama Mor masih dipergunakan untuk kelompok masyarakat Muslim yang mendiami kota-kota tertentu. Di pantai Utara Afrika sepanjang Laut Tengah, karena pada umumnya mereka adalah keturunan imigran dari Spanyol, yang lari ke Afrika Utara setelah pengusiran besar-besaran terhadap umat Islam oleh para penguasa Spanyol. Pengusiran itu mencapai puncaknya pada tahun 1609 M (Yatim, 2008; 93), karena saat itu umat Islam dihadapkan kepada dua pilihan, masuk kristen atau pergi meninggalkan Spanyol. Karena penguasa yang sah pada saat itu Abu Abdullah tidak kuasa menahan serangan-serangan yang dilancarkan oleh dua penguasa kristen, yaitu Ferdenand dan Isabella. Boleh dikatakan pada tahun 1609 M tidak ada lagi umat Islam di daerah Spanyol.

Meskipun zaman keemasan Islam di eropa sudah musnah, namun pengaruh peradaban dan perkembangan intelektual di spanyol ini menjadi faktor yang signifikan atas kemajuan barat Eropa.

Daftar Pustaka

1. Brill, E. J, First Encyclopedia of Islam 1913-1936, Vol. V. New York: Leiden, 1987

2. Brill, E. J. The Encyclopedia of Islam : New edition vol. VII. New York: Leiden, 1993,

  1. Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Jilid III, Jakarta: PT. Ichtiar van Hoeve, 1993

4. Saefudin, Didin, Zaman Keemasan Islam, Jakarta : PT. Grasindo, 2002

5. Syalabi, Sejarah dan kebudayaan Islam Jilid 1, alih bahasa oleh Mukhtar Yahya dan M. Sanusi Latief, Jakarta : Al-Ilusna, 1997

6. Yatim, Badri, Dr. Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2008

Entri Populer